SATU DALIL CUKUP SEBAGAI DASAR PERINGATAN MAULID NABI

Oleh : ILham Mushoddiq
Kemeriahan itu sudah terlihat sejak pagi, adik-adik siswa-siswi TPQ di desaku nampak berhias melakukan pawai dalam rangka Peringatan Maulid Nabi tahun ini, berjalan menelusuri jalan-jalan desa yang belum beraspal, sebagian lagi bersepeda pancal dengan hiasan bunga kertas warna warni yang ditempelkan di sepedanya masing-masing. Keceriaan terpancar jelas dari wajah mereka, sama sekali tidak tampak lelah, semua tersenyum ria, meski mentari mulai meninggi dan udara mulai menghangat.
Siang harinya, giliran para pemuda dan pemudi desa yang terjun langsung mendatangi rumah-rumah para kaum dluafa’ dan anak yatim di seluruh pelosok desa, guna untuk menyampaikan santunan, santunan ini berisi paket sembako dan uang tunai sejumlah 150 ribu rupiah. Kegembiraan tampak menyeruak dari keduanya, baik dari yang memberi maupun yang menerima santunan, dan semuanya adalah diniatkan untuk merayakan Maulid Nabi, mengagungkan hari kelahiran Nabi Terbesar. Read the rest of this entry

6 Kisah Kejujuran Polisi Hoegeng Yang Menggetarkan Hati

hoegengMantan Presiden Gus Dur punya anekdot, hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia. Ketiganya adalah patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng Iman Santosa. Ini semacam sindiran bahwa sulit mencari polisi jujur di negeri ini. Kalaupun ada, langka dicari.

Polisi Hoegeng adalah satu teladan polisi jujur yang kisah dan kiprah selalu layak diceritakan turun-temurun. 14 Oktober 1921, tepat 91 tahun lalu, Hoegeng lahir di Pekalongan. Inilah beberapa cerita dan kiprah polisi Hoegeng sejak merintis karir sebagai polisi, sebagai dirjen imigrasi hingga berpuncak pada karir sebagai Kapolri.
Kisah-kisah yang menyentuh dan menggetarkan hati ini beberapa dikutip dari memoar Hoegeng, Polisi antara Idaman dan Kenyataan, karangan Ramadhan KH. Read the rest of this entry

Jamaluddin Al Afghani (dan Kontribusinya pada Kebangkitan Dunia Islam)

Jamaluddin Al AfghaniNama panjang beliau adalah Muhammad Jamaluddin Al Afghani, dilahirkan diAsadabad, Afghanistan pada tahun 1254 H/1838 M. Ayahanda beliau bernama Sayyid Safdaral-Husainiyyah, yang nasabnya bertemu dengan Sayyid Ali al-Turmudzi (seorang perawi hadits yang masyhur yang telah lama bermigrasi ke Kabul) juga dengan nasab Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Pada usia 8 tahun Al-Afghani telah memperlihatkan kecerdasan yang luar biasa, beliau tekun mempela­jari bahasa Arab, sejarah, matematika, fil­safat, fiqh dan ilmu keislaman lainnya. Dan pada usia 18 tahun ia telah menguasai hampir seluruh cabang ilmu pengetahuan meliputi filsafat, hukum, sejarah, kedokteran, astronomi, matematika, dan metafisika. Al-Afghani segera dikenal sebagai profil jenius yang penguasaannya terhadap ilmu pengetahuan bak ensiklopedia. Read the rest of this entry

Wage Rudolf Soepratman Pencipta Lagu Indonesia Raya

 Oleh: Yousri Nur RA MH *)

WAGE Rudolf Soepratman adalah pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya” yang wafat di Surabaya. Sama dengan Dr.Soetomo, almarhum tidak dimakamkan di TMP (Taman Makam Pahlawan) yang ada di Surabaya, tetapi dimakamkan di TMP khusus. Tepatnya, dekat TPU (Taman Pemakaman Umum) Rangkah, Jalan Kenjeran Surabaya. Sebelum dipindah ke tempat yang sekarang, dulu jenazah WR Soepratman memang dimakamkan di TMP Khusus Rangkah, Surabaya.

WR Soepratman ditetapkan sebagai pahlawan nasional berkat jasanya menciptakan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Selain itu, nama WR Soepratman lekat dengan peringatan Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober. Karena pada Kongres Pemuda Indonesia II tanggal 28 Oktober 1928 itulah untuk pertamakalinya WR Soepratman memperkenalkan dan memperdengar kan lagu “Indonesia Raya”.

Kecuali peristiwa-peristiwa bersejarah itu, ada satu kebetulan yang luar biasa. Tanggal wafatnya WR Soepratman adalah 17 Agustus 1938. Tepat tujuh tahun sebelum tanggal 17 Agustus 1945 yang menjadi tanggal keramat bagi Bangsa Read the rest of this entry

Makam WR Supratman Surabaya

Makam WR Supratman di Jl Kenjeran Surabaya saya kunjungi dengan menumpang sebuah taksi setelah sebelumnya berkunjung ke Makam Peneleh. Kami melewati jalan belakang makam agar tidak perlu memutar terlalu jauh, namun pintu belakang dan samping Makam WR Supratman digembok ketika saya sampai di makam.

Rumah kuncen yang berada di dekat makam saya temukan tidak lama setelah bertanya ke penduduk setempat. Beberapa saat kemudian saya sudah berada di dalam kompleks Makam WR Supratman yang cukup luas dan terawat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

sesaat setelah saya masuk dari pintu samping kanan makam, dengan patung WR Supratman tengah bermain biola tampak dikejauhan, membelakangi prasasti yang berisi tiga bait lagu Indonesia Raya Read the rest of this entry

Bung Karno dan Konsep Persatuannya

Membicarakan konsep front persatuan, tidak lengkap rasanya jika tidak menyebutkan nama Bung karno dan gagasan-gagasan politiknya. Ia memegang teguh keyakinan politiknya sejak awal hingga akhir, termasuk keyakinannya soal persatuan nasional yang dinamainya Nasakom, akronim dari nasionalis, agama, dan komunis.

Ada banyak yang mengatakan, pemikiran Bung Karno mengenai Nasakom adalah yang paling orisinil dan acceptable di Indonesia. Sedangkan tak sedikitpula yang mencibir, bahwa persatuan nasional nasakom hanya konsep belaka dan akan berantakan jika dipraktekkan. Read the rest of this entry

Soekarno dan Pakaian “Uniform”

Soekarno, sejak memulai aktivitas pergerakan hingga menjadi presiden, sangat memperhatikan penampilan, terutama soal berpakaian. Tidak dapat dipungkiri, bahwa dikalangan pergerakan saat itu, Soekarno merupakan salah satu yang mempunyai ciri khas dalam berpakaian, dan kelak diikuti oleh kalangan pergerakan lainnya.

Saat memasuki sekolah teknik di Bandung, Soekarno mulai menggunakan kemeja putih, pantalon, dan berdasi. Generasi pergerakan saat itu seperti Soekarno, Gatot Mangkoepradja, Sartono, Ali Sastroamidjoyo, Syahrir, dan Amir Syarifuddin, merupakan generasi awal yang sudah mengenakan pakaian jas, celana panjang, sepatu, dan dasi. Rudolf Mrázek, seorang professor sejarah di University of Michigan, menyebut gaya berpakaian seperti ini sebagai “Indonesian dandy” (kenecisan). Read the rest of this entry

Dari 8 Rumusan Pancasila yang 2 Rekayasa Orba

Sepanjang sejarah terdapat 8 rumusan Pancasila, 2 di anta ranya merupakan hasil rekayasa rezim Orde Baru. Ke 6 formula yang tidak direkayasa itu adalah sebagai berikut.

Pertama, Pancasila yang disampaikan Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945, dengan urutan (1) Kebangsaan Indo- nesia, (2) Internasionalisme atau Peri-kemanusiaan, (3) Mufakat atau Demokrasi, (4) Kesejahteraan Sosial, dan (5) Ketuhanan. Bung Karno yang pertama menyebut istilah Pancasila, dan pertama kali pula membahas “dasar negara” seperti yang diminta oleh pimpinan sidang BPUPK (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan).

Seusai dengan persidangan pertama BPUPK tanggal 1 Juni 1945 dibentuk panitia kecil yang terdiri atas 8 orang, diketuai Soekarno, dengan anggota M Hatta, M Yamin, A Maramis, Otto Iskandardinata, Sutardjo Kartohadikusumo, Ki Bagus Hadikusumo, dan Wachid Hasyim, untuk menampung masukan dari anggota BPUPK lainnya. Kemudian Soekarno mengubah komposisi tim ini menjadi 9 orang, Soekarno masih ketua, dengan anggota M Hatta, M Yamin, A Maramis, Subardjo, Wachid Hasyim, Kahar Muzakkir, Agus Salim, dan Abikusno Tjokrosuyoso. Read the rest of this entry

PDRI, Kisah yang Hampir Tidak Diingat

Kompas Cetak Minggu, 19 Desember 2010

Wajah Ismael Hassan (84) berseri-seri. Pada Sabtu (18/12), di Kompleks Yayasan Asrama dan Pendidikan Islam Al-Azhar, Rawamangun, Jakarta Timur, ia sibuk menerima ucapan selamat dari koleganya dan orang-orang lain yang menghadiri peringatan 62 tahun Pemerintah Darurat Republik Indonesia. Memakai setelan jas berwarna gelap, ia juga kelihatan tangkas melayani permintaan sejumlah orang yang mengajaknya berfoto bersama. Ismael adalah orang yang paham bagaimana para tokoh Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) berjuang di hutan-hutan belantara di Sumatera Barat. Bersama tokoh PDRI, ia ikut berpindah-pindah tempat hunian guna menghindari kejaran Belanda. Read the rest of this entry

Sejarah Papua adalah Sejarah Indonesia

Oleh : Dewi Fortuna Anwar

Salah satu orang yang bagi saya penting, sudah lama saya kenal, dan tidak pernah berhenti menghargai adalah tamu kita kali Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar. Ini sesuai yang tertulis di kartu namanya. Tapi saya saya biasa memanggilnya Dewi saja. Dia kini deputi bidang ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Beberapa hari lalu atau mungkin dua minggu lalu, saya bertemu Dewi pada satu makan malam dengan Duta Besar Australia dan beberapa orang Australia. Kami bicara mengenai Papua. Australia tentu mempunyai perhatian untuk membahas itu terutama dari sudut pandang mereka. Mereka merasa tidak punya aspirasi mendukung kemerdekaan atau pemisahan Papua dari Indonesia, tapi suka disalahi saja. Sebaliknya orang Indonesia suka tidak percaya juga bahwa Australia tidak mendukung karena banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berpusat di sana mendukung gerakan-gerakan pemisahan Papua. Juga pernah ada orang-orang yang kabur dari Papua kemudian diberikan suakadi Australia. Jadi di tengah-tengah kerancuan itu Dewi mengeluarkan satu poin yang sangat penting yaitu sejarah Irian Barat adalah sejarah Republik Indonesia. Read the rest of this entry