Perspective : Tan Malaka Bukan Seorang Komunis

Elite Partai Komunis Indonesia (PKI) M. H. Lukman pernah menulis “Tan Malaka adalah pengkhianat Marxisme-Leninisme.”. Tulisan itu dituangkan dalam surat kabar terbitan PKI Bintang Merah pada 15 November 1950.

Anggapan dari salah satu elite PKI pada saat itu jelas membingungkan. Dalam sejarah justru Tan Malaka menjadi korban politik stigmatisasi rezim Orde Baru yang mengatakan Tan Malaka adalah seorang komunis.

Tan Malaka pada tahun 1919 memang pernah menyatakan dirinya sebagai seorang Marxis, dan bahkan Tan pernah menjadi ketua PKI dan ketua Komunis Internasional (Komintern) untuk kawasan Asia Tenggara. Tapi pada perkembangan selanjutnya, Tan Malaka justru menjadi musuh utama PKI pada saat itu dan keluar dari Komintern karena perbedaan pandangan ideologis.

Jadi masih masuk akalkah jika Tan Malaka dicap sebagai seorang komunis tulen?.

Tan Malaka sebenarnya memiliki ciri khas tersendiri dalam menuangkan ide-ide nasionalisme, yang justru membedakan dengan tokoh-tokoh lain pada masa itu. Dalam pemikirannya terdapat konvergensi antara Marxisme yang sebenarnya bersifat internasionalis dan mengedepankan solidaritas kaum buruh sedunia, tanpa dibatasi rasa kebangsaan, dengan nasionalisme yang memiliki ciri khas pada Nation State.

Tan Malaka bukanlah seorang dogmatis tulen sebagaimana para Stalinis, Tan berpikir menurut dialektika. Ketika Stalin mendakwa kesatuan Islam (Pan-Islamisme) dan Khalifah sebagai bentuk kolonialisme, Tan membantah anggapan Stalin tersebut. Bagi Tan, kesatuan Islam tidaklah harus berada di Asia Barat saja, Pan-Islamisme harus dibangun disetiap negeri Muslim. Islam, kata Tan, bahkan telah mengajarkan sosialisme dan anti penjajahan 12 abad sebelum Karl Marx lahir kedunia. Karena itulah menurut Tan, gerakan Islam dimanapun harus membebaskan rakyat terjajah dimanapun.

Komintern dan Soviet pun semakin gerah dengan sikap Tan yang sangat lunak terhadap gerakan Islam, akhirnya Tan pun dipecat dari jabatan ketua Komintern Asia Tenggara.

Ada hal yang menarik saat Tan Malaka berdebat dengan Mohammad Hatta di Berlin pada Juli 1922. Saat itu Hatta dan Tan berdebat tentang gagasan ekonomi kerakyatan atau demokrasi ekonomi. Dalam perbincangan tersebut Tan mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemerintahan model diktator yang dijalankan Stalin di Soviet, tiba-tiba Hatta memotong pembicaraan dengan pertanyaan yang sangat tajam, “bukankah kediktatoran memang inheren dalam faham komunisme?”.

Pertanyaan tajam dari Hatta tersebut ditanggapi oleh Tan dengan menjelaskan teori diktator proletariat ala Karl Marx. Menurut Tan, diktator proletariat versi Marx hanya berlangsung selama periode transisi, yaitu selama berlangsungnya pemindahan penguasaan alat-alat produksi dari tangan kapitalis ke tangan rakyat. Selanjutnya, kaum pekerja yang sebelumnya tercerahkan di bawah panduan perjuangan kelas, akan mengambil peran sebagai penunjuk jalan dalam membangun keadilan. Hal itu akan dicapai dengan cara menyelenggarakan produksi oleh semua, untuk semua, dibawah pimpinan berbagai institusi dalam masyarakat. Hal tesebut jelas sangat bertolak belakang dengan diktator personal.

Lalu bagaimana mungkin jika Tan seorang komunis tulen bisa kecewa terhadap Soviet yang notabene pemimpin komunis pada saat itu?.

Pada tahun 1926 terjadi pemberontakan PKI di beberapa daerah. Jika Tan adalah seorang komunis tulen, tentu Tan akan mendukung pemberontakan itu dalam kapasitasnya sebagai mantan pemimpin partai dan anggota partai. Tan Malaka yang sedang berada di luar negeri menilai pemberontakan itu terlalu dini dikobarkan oleh PKI. Dan pada tahun 1927, tanpa ragu Tan keluar dari PKI untuk kemudian mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI).

Tan Malaka juga dengan gamblangnya menunjukan sikap tidak setuju terhadap pemberontakan PKI selanjutnya di Silungkang (1927) dan pemberontakan Banten (1926). Pada pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 pun Tan Malak menunjukan sikap tidak setuju. Tan Malaka tetap tidak menjadi bagian dari Muso dan Alimin.Pada 1948, Tan dan pasukannya lebih memilih perang menghadapi agresi Belanda.

Sikap tersebut menunjukan Tan Malaka sebenarnya lebih rasional dari para elite PKI pada saat itu, dan sejak tahun 1927 bukan bagian dari PKI.

Memang faktanya, Tan yang sejak masa mudanya sudah terpesona oleh Marxisme-Leninisme. Tapi hal yang amat penting yang harus diingat adalah, Tan Malaka tidak berjuang untuk kemenangan partai komunis di tanah airnya agar mendapatkan kekuasaan, hal ini tentu tabu bagi para Marxist dan Leninist pada umumnya. Yang Tan perjuangkan sepanjang hidupnya adalah kemerdekaan seratus persen tanah air yang di cintainya.

Selanjutnya jika Tan masih dikatakan seorang komunis, tapi kenapa Tan Malaka begitu menekankan aspek persatuan di antara sesama warga bangsa apapun afiliasi politik maupun ideologinya?, kenapa Tan tidak berjuang untuk perjuangan kelas yang menjadi bagian penting dalam teori Marxis-Leninis?, dan hal yang paling vital adalah, jika Tan seorang komunis tulen, kenapa Tan Malaka ber-Tuhan?, seperti yang terekam dalam tulisan-tulisan Harry Poeze bawha ketika ibunda Tan Malaka sakit, Tan sempat berulang-ulang melantunkan bacaan-bacaan dalam Al-Qur’an.

Dalam dunia gagasan, Tan Malaka dikenal sebagai pemikir yang fasih berbicara sosialisme, Marxisme, sejarah, politik, hingga ekonomi. Tapi paradoksnya adalah : Tan Malaka adalah seorang Marxis dalam pemikiran, tapi nasionalis yang tuntas dalam semua tindakannya.

Dalam aspek spiritual keagamaan dan keTuhanan, seperti yang pernah Tan ungkapkan, ”mungkin aku adalah seorang radikal didepan mereka, tapi di depan Tuhan, aku hanyalah hambanya yang tidak berdaya”.

Menyelami pemikiran dan merasakan petualangan perjuangannya, Tan Malaka adalah seorang nasionalis sejati (ultra nasionalis) daripada seorang komunis.

Sumber : http://myfirecracker.multiply.com

About kaifa10

Nothing Special about me

Posted on 18 Juni 2011, in Arsipku, Indonesia, Sejarah, Tokoh. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: