Makam WR Supratman Surabaya

Makam WR Supratman di Jl Kenjeran Surabaya saya kunjungi dengan menumpang sebuah taksi setelah sebelumnya berkunjung ke Makam Peneleh. Kami melewati jalan belakang makam agar tidak perlu memutar terlalu jauh, namun pintu belakang dan samping Makam WR Supratman digembok ketika saya sampai di makam.

Rumah kuncen yang berada di dekat makam saya temukan tidak lama setelah bertanya ke penduduk setempat. Beberapa saat kemudian saya sudah berada di dalam kompleks Makam WR Supratman yang cukup luas dan terawat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

sesaat setelah saya masuk dari pintu samping kanan makam, dengan patung WR Supratman tengah bermain biola tampak dikejauhan, membelakangi prasasti yang berisi tiga bait lagu Indonesia Raya ciptaannya. Di sebelah kanan adalah sebagian dari cungkup berbentuk joglo tempat jasad WR Supratman disemayamkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 pada pelataran sebelah kiri patung dimana terdapat prasasti lain yang berisikan riwayat komponis pencipta Lagu Kebangsaan Republik Indonesia ini.

Disebutkan pada kolom pertama bahwa Wage Rudolf Supratman lahir Senin Wage 9 Maret 1903 di Jatinegara Jakarta, beragama Islam dan tidak berpartai.

Pada 1914 WR Supratman mulai diasuh kakak iparnya WM van Eldik (Sastromihardjo) di Makassar, dimana ia belajar memetik gitar dan menggesek biola.

Pada 1919 ia masuk sekolah guru di Makassar dan diangkat menjadi guru, kemudian mendirikan jazz band “Black and White” di Makassar dibawah binaan WM van Eldik hingga 1924.

Pada 1924 WR Supratman ke Surabaya, kemudian ke Bandung dan menjadi wartawan surat kabar Kaoem Moeda.

Pada 1926 sebagai wartawan surat kabar Sinpo ia rajin mengunjungi rapat-rapat pergerakan nasional di gedung pertemuan Gang Kenari Jakarta (sekarang Museum MH Thamrin) dan mulai menciptakan lagu Indonesia Raya yang selesai dikerjakannya pada 1928.

Semula refrein lagu Indonesia Raya ditulisnya “Indones, Indones, Merdeka, Merdeka” dan sejak itu ia dikejar-kejar oleh polisi Hindia Belanda.

Pada 27-28 Oktober 1928 Kongres Pemuda Indonesia ke-II di Jakarta (lihat tulisan Museum Sumpah Pemuda) yang menghasilkan kebulatan tekad Sumpah Pemuda, yaitu Satu Tanah Air Indonesia, Satu Bangsa Indonesia, Satu Bahasa Indonesia, serta diputuskan mengakui lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan.

Pada kolom kedua disebutkan bahwa dalam Kongres itu dinyanyikan lagu Indonesia Raya dengan iringan gesekan biola WR Supratman, namun tetap dilarang untuk dinyanyikan dengan menggunakan kalimat pertama Refrein lagu yang semula, sampai tentara Jepang mengizinkan tahun 1944 boleh dinyanyikan lagi dengan menggunakan kata-kata “Merdeka, Merdeka”.

Dari tahun 1930-1937 WR Supratman berpindah-pindah tempat hingga di tahun 1937 ia dibawa oleh saudaranya ke Surabaya dalam keadaan sakit.

7 Agustus 1938 (Minggu Wage) ketika sedang memimpin pandu-pandu KBI menyiarkan lagu “Matahari Terbit” di NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij) Jl Embong Malang Surabaya, ia ditangkap dan ditahan di penjara Kalisosok.

17 Agustus 1938 (Rabu Wage) WR Supratman meninggal dunia di Jl Mangga 21 Surabaya tanpa isteri dan anak karena memang belum menikah dan dimakamkan di kuburan umum Kapas Jl Kenjeran Surabaya secara agama Islam.

Pada kolom kedua ini juga disebutkan pesan terakhirnya yang ditulis dalam ejaan lama, yaitu “Nasibkoe soedah begini inilah jang disoekai oleh pemerintah Hindia Belanda. Biarlah saja meninggal, saja ichlas. Saja toch soedah beramal, berdjoang dengan carakoe, dengan biolakoe. Saja jakin Indonesia pasti Merdeka.”

Pada kolom ketiga disebutkan lagu-lagu ciptaan WR Supratman, yaitu Lagu Kebangsaan Indonesia Raya (1928), Indonesia Iboekoe (1928), Bendera Kita Merah Poetih (1928), Bangoenlah Hai Kawan (1929), Raden Adjeng Kartini (1929), Mars KBI (Kepandoean Bangsa Indonesia, 1930). Di Timoer Matahari (1931), Mars PARINDRA (1937), Mars Soerja Wirawan (1937), Matahari Terbit (Agustus 1938), dan Selamat Tinggal (belum selesai, 1938)

Juga disebutkan buku sastera ciptaannya, yaitu Perawan Desa (1929), Darah Moeda, dan Kaoem Panatik. Pada 1930 Buku Perawan Desa disita oleh Polisi Hindia Belanda dan dilarang beredar.

26 Juni 1958 Peraturan Pemerintah No. 44 / 1958 menetapkan Indonesia Raya sebagai Lagu Kebangsaan Republik Indonesia, dan pada 10 November WR Supratman mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Nasional, serta pada 19 Juni 1974 mendapat penghargaan Bintang Mahaputera Utama.

Ini adalah riwayat hidup terlengkap dari semua makam yang pernah saya kunjungi, dan ditatah pula pada sebuah dinding batu, sehingga selain sangat membantu bagi pejalan juga bisa bertahan lama.

Namun ada pendapat lain yang menyatakan bahwa WR Soepratman dilahirkan pada 19 Maret 1903 di Dukuh Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Purworejo, Jawa Tengah, yang diperkuat keputusan Pengadilan Negeri Purworejo pada 29 Maret 2007. Bagaimana pun 9 Maret telah diresmikan oleh Megawati Soekarnoputri saat menjabat Presiden RI sebagai Hari Musik Nasional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

pada patung seukuran manusia yang terlihat agung, dan lingkungan sekelilingnya juga terlihat asri dengan pohon-pohon kamboja rimbun yang berbunga merah dan putih.

memang menjadi lebih lengkap dan bermakna dengan adanya patung serta prasasti riwayat hidupnya, serta prasasti di belakang patung yang berisi tiga syair lagu Indonesia Raya versi aselinya, yang ditulis menggunakan ejaan lama.

Pada kolom pertama tertulis:
Indonesia tanah airkoe
Tanah Toempah darahkoe
Disanalah akoe berdiri
Mendjaga pandoe iboekoe

Indonesia kabangsaankoe
Kebangsaan tanah airkoe
Marilah kita berseroe:
“Indonesia bersatoe”

Hiduplah tanahkoe
Hiduplah negrikoe
Bangsakoe, djiwakoe, semoea
Bangoenlah rajatnja
Bangunlah badannja
Oentoek Indonesia Raja

Refrein:
Indones’, Indones’, Moelia, Moelia
Tanahkoe, negrikoe jang koetjinta
Indones, Indones, Moelia, Moelia
Hidoeplah Indonesia Raja.

Pada kolom kedua tertulis:
“Indonesia tanah jang moelia
Tanah kita jang kaja
Disanalah akoe hidoep
Oentoek s’lama-lamanja

Indonesia tanah poesaka
Poesaka kita semoeanja
Marilah kita berseroe:
“Indonesia bersatoe”

Soeboerlah tanahnja
Soeboerlah djiwanja
Bangsanja, rajatnja, semoea
Sedarlah hatinja
Sedarlah boedinja
Oentoek Indonesia Raja

Refrein:
Indones’, Indones’, Moelia, Moelia
Tanahkoe, negrikoe jang kutjinta
Indones, Indones, Moelia, Moelia
Hidoeplah Indonesia Raja”

Sedangkan pada kolom terakhir tertulis:
“Indonesia tanah jang soetji
Bagi kita disini
Disanalah kita berdiri
Mendjaga iboe sedjati

Indonesia tanah berseri
Tanah jang terkoetjintai
Marilah bernjanji:
“Indonesia bersatoe”

S’lamatlah rajatnya
S’lamatlah poetranja
Poelaoenja, laoetnja, semoea
Madjoelah negerinja
Madjoelah Pandoenja
Oentoek Indonesia Raja

Refrein:
Indones’, Indones’, Moelia, Moelia
Tanahkoe, negrikoe, jang koetjinta
Indones’, Indones’, Moelia, Moelia
Hidoeplah Indonesia Raja”

Sebuah tengara yang dipahat di bawah patung WR Supratman yang menyebutkan peresmian pemugaran Makam WR Supratman yang dilakukan Presiden Megawati pada 18 Mei 2003. Pemindahan jasad WR Supratman dari pemakaman umum di Kapasan ke lokasi sekarang ini terjadi pada tahun 1954.

makam wr supratman

Makam WR Supratman yang unik dengan bentuk siluet biola pada bagian tengahnya, batu nisan tunggal dengan ornamen matahari, penggalan not balok serta potongan syair Lagu Indonesia Raya di bawahnya.

makam wr supratman 

Makam WR Supratman dengan latar belakang patungnya serta prasasti berisi syair lagu Indonesia Raya yang diciptakannya.

Dalam buku yang ditulis Anthony C Hutabarat berjudul “Wage Rudolf Soepratman” disebutkan bahwa ketika ia ke Bandung untuk melihat sidang pengadilan Soekarno pada 1930 di Pengadilan Distrik Bandung, sekarang Gedung Indonesia Menggugat, Bung Karno yang baru saja menginjakkan kaki di depan pintu pengadilan melihatnya dan spontan mengucapkan kata-kata: “Daar hebt je de komponis van Indonesia Raya? Strijd voort voor Onze Vrijheid Meneer Soepratman. Merdeka!”, yang artinya “Bukankah anda pencipta lagu Indonesia Raya? Berjuang teruslah demi kemerdekaan kita Tuan Soepratman. Merdeka!”, dan pandangan seluruh pengunjung yang hadir dalam ruang pengadilan itu pun tertuju kepadanya, yang dibalasnya dengan senyum dan anggukan kepala.

Kisah perjalanan hidup WR Supratman juga bisa dibaca di blog Raja Agam

makam wr supratman 

Makam WR Supratman dengan latar belakang prasasti yang berisi riwayat hidupnya.

Adalah ketika lagu Indonesia Raya direkam di piringan hitam oleh Lokananta Solo pada 1929, dan diperdengarkan di mana-mana, WR Soepratman dipanggil oleh Procureur General (Jaksa Agung), dan kata-kata “Merdeka, Merdeka” dalam lagu itu pun secara resmi dilarang oleh pemerintah Hindia Belanda.

makam wr supratman 

yang memperlihatkan langit-langit cungkup makamnya yang terbuat dari kayu dan diukir indah dengan sebuah lampu gantung di tengahnya.

makam wr supratman 

pada bagian depan yang memperlihatkan cungkup makamnya serta tengara di tembok depan, yang sayangnya terganggu dengan adanya beton-beton yang diletakkan secara sembarangan.

Perjuangan memang tidak selalu harus menggunakan senjata pemusnah untuk menghancurkan lawan, dan biola bagi WR Soepratman adalah alat perjuangan yang dengannya ia bisa menyumbangkan sebuah mahakarya bagi bangsa dan negara. Sebuah lagu yang mampu membuat hati bergetar dan air mata pun merebak saat menyanyikan “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya…”

Makam WR Supratman

Jl Kenjeran
Surabaya
GPS rumah kuncen: -7.24365, 112.76068
GPS: -7.24331, 112.76103

 Sumber : http://thearoengbinangproject.com/2012/03/makam-wr-supratman-surabaya/

About kaifa10

Nothing Special about me

Posted on 8 September 2012, in Arsipku, Indonesia, Sejarah, Tokoh. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: